Bayangkan ketika aktivitas sederhana seperti minum air atau makan tiba-tiba menjadi sulit dan berbahaya. Bagi sebagian orang, proses menelan bukan lagi hal otomatis, tetapi tantangan yang dapat mempengaruhi kesehatan bahkan mengancam nyawa. Kondisi ini dikenal dengan istilah disfagia.
Gangguan menelan sering kali dianggap sepele karena gejalanya terlihat sederhana, seperti sering tersedak atau batuk saat makan. Padahal, disfagia dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Disinilah peran Terapis Wicara menjadi sangat penting dalam membantu pasien kembali makan dan minum dengan aman.
Disfagia adalah istilah medis untuk kesulitan menelan makanan atau minuman, maupun air liur. Kondisi ini terjadi ketika otot dan saraf yang berfungsi dalam proses menelan mengalami gangguan.
Pada kondisi normal, proses menelan menjadi secara otomatis dan melibatkan koordinasi kompleks antara otot mulut, lidah, tenggorokan dan otak. Namun pada pasien disfagia, proses tersebut terganggu sehingga makanan atau minuman dapat masuk ke saluran pernapasan.
Gejala Disfagia dapat berupa:
Jika proses menelan terganggu, makanan atau minuman bisa “salah jalan” dan masuk ke saluran pernapasan, bukan ke lambung. Pasien dapat mengalami aspirasi, yaitu kondisi ketika makanan masuk ke paru-paru.
Hal ini dapat menyebabkan:
Pada beberapa kasus, komplikasi disfagia dapat menjadi konsidi serius yang membutuhkan penanganan medis segera.
Gangguan menelan ini seringkali menyerang orang dewasa dan lansia, terutama yang memiliki riwayat penyakit tertentu:
Terapis Wicara atau Speech-Language Pathologist merupakan tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam menangani gangguan komunikasi, bicara, bahasa, serta gangguan menelan (disfagia).
Dalam penanganan disfagia, Terapis Wicara berperan sebagai “pelatih menelan” yang membantu pasien agar dapat makan dan minum dengan lebih aman.
Apa yang Dilakukan Terapis Wicara?
Saat ini kebutuhan tenaga Terapis Wicara terus meningkat, terutama di rumah sakit, klinik rehabilitas, sekolah inklusi, dan pusat terapi. Meningkatnya jumlah pasien stroke, populasi lansia, serta kebutuhan layanan kesehatan rehabilitatif membuat profesi ini memiliki peluang karir yang luas di masa depan. Terapis Wicara tidak hanya membantu pasien berbicara, tetapi juga membantu pasien mendapatkan kembali kemampuan dasar seperti makan dan menelan dengan aman.
Bentara Campus hadir untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional di bidang terapi wicara dan bahasa melalui pembelajaran berbasis praktik, dosen profesional, dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan saat ini.
Mahasiswa akan mempelajari:
Dengan peluang kerja yang luas dan kebutuhan tenaga profesional yang terus meningkat, Program Studi Terapi Wicara dan Bahasa menjadi salah satu pilihan karier yang menjanjikan di bidang kesehatan.
Tertarik Menjadi Terapis Wicara Profesional?
Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang membantu pasien kembali makan, menelan, dan berkomunikasi dengan lebih baik?
Yuk bergabung bersama Program Studi Terapi Wicara dan Bahasa di Bentara Campus.
📞WhatsApp : https://wa.me/628111518688
Informasi lebih lanjut, hubungi kami!