

Banyak anak terlihat tenang, penurut, atau “tidak ribut”, hingga orang tua menganggap semuanya baik-baik saja. Namun, di balik ketenangan itu, sebagian anak sebenarnya memendam emosi, tidak mampu mengekspresikan perasaan, dan kesulitan melakukan regulasi emosi.
Masalah ini tidak boleh dianggap sepele. Dalam dunia mental health, kemampuan meregulasi emosi merupakan fondasi yang menentukan cara anak berpikir, berperilaku, dan berhubungan dengan lingkungan. Ketika kemampuan ini terganggu, dampaknya bisa muncul dalam jangka pendek maupun panjang.
Mengapa Anak Sering Memendam Emosi?
Anak biasanya menahan emosi bukan karena mereka ingin, tetapi karena:
Ketika ini terjadi berulang, anak belajar bahwa emosi = tidak boleh ditunjukkan.
Dampak pada Jangka Pendek
Anak yang terlalu banyak menahan rasa marah, kecewa, atau sedih dapat mengalami:
Ini karena “tabung emosi” mereka penuh dan tidak punya saluran yang sehat untuk keluar.
Anak yang tidak terbiasa mengekspresikan emosi cenderung:
Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan sosial dan bahasa emosional mereka.
Emosi yang dipendam bisa muncul sebagai:
Guru sering salah memahami ini sebagai “nakal”, padahal akarnya adalah ketidakmampuan regulasi emosi.
Anak yang sering memendam emosi bukan berarti anak yang kuat atau mandiri. Justru, ini adalah sinyal bahwa mereka kesulitan mengekspresikan diri dan meregulasi emosi, yang dapat berdampak serius pada perkembangan mental, sosial, dan akademik. Membantu anak belajar mengelola emosinya sejak dini adalah investasi besar untuk masa depan mereka baik dalam kesehatan mental maupun kualitas hidup.
Halo!