“Bencana menguji, tapi juga menyatukan kita dalam peduli kebersamaan & empati.”
“Terima kasih kolaborasi yang terjalin salam tangguh.”
Walau singkat sejak proses pengiriman di Lanud Halim Jakarta, bantuan yang diberikan, bekerjasama dengan BNPB, sangat bermanfaat bagi masyarakat terkena bencana.
Perjalanan darat dari Banda Aceh memakan waktu 6 jam menuju posko terpadu penanggulangan bencana alam di wilayah Korem 011 Lilawangsa, sebelum bantuan disalurkan ke desa desa terdampak bencana di Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Proses koordinasi dilakukan untuk memastikan barang bantuan tepat tiba di lokasi yang membutuhkan. Komunikasi rutin dengan pengemudi truk pembawa bantuan terjadi secara intens untuk memastikan kelancaran perjalanan. Sesudah dipandu ke lokasi posko terpadu, bantuan segera diberangkatkan bersama tim menuju lokasi para pengungsi yang dituju.
Sebelum barang bantuan tiba, asesmen tim menemukan informasi kebutuhan Desa Blang Pria di Kec. Samudera, Kab.Aceh Utara yang terdampak bencana banjir. Tim meninjau lokasi bencana dan berinteraksi dengan masyarakat yang mengalami kerusakan berat pada tempat tinggal mereka. Mereka belum bisa kembali ke rumah karena lumpur masih menumpuk tebal di dalam rumah dan di area pekarangan rumah. Tim menjumpai banyak warga lansia & anak disabilitas dan melakukan kegiatan psikososial (bermain dan membawakan cerita kepada anak-anak berjudul Rumah Si Lebah).
Akses sulit menuju lokasi pengungsi di Desa lubok Pusaka, Kec. Langkahan , Kab. Aceh Utara memberikan pengalaman menantang. Disepanjang perjalanan masih terdapat banyak lumpur dengan jalan rusak atau terputus, sehingga tim harus melewati jalur yang cukup jauh menuju lokasi. Dengan terpaksa, kendaraan mobil harus kembali ke posko dan tim melanjutkan dengan bantuan kendaraan motor warga. Dengan rasa Syukur, seorang bapak memberikan kendaraannya dan menemani perjalanan ke lokasi yang membutuhkan 1 jam dan 20 menit.
Sepanjang perjalanan, Pak Ali Fajar berbagi cerita pengalamannya saat kejadian bencana banjir. Beliau mengalami kerugian besar., Mobil yang biasa digunakan untuk usaha tokonya dihanyutkan air bah beserta semua dagangannya, termasuk rumah kediamannya pun lenyap. Istri dan anaknya juga sempat hilang selama dua hari sebelum ditemukan di sekitar perkebunan sawit.
Awalnya kami ada rasa khawatir bagaimana bisa mencapai lokasi pengungsi, karena melihat akses jalan yang sulit dan keterbatasan kendaraan yang dapat digunakan.
Tetapi didorong oleh solidaritas tanpa batas, komunitas, mahasiswa, dan TNI bersatu padu melalui persatuan yang kuat, menjadi inspirasi besar bagi saya secara pribadi.
Ada beberapa cerita inspirasi, seperti Pak Muang yang mau membantu masyarakat walaupun mereka juga mengalami kerugian besar dari bencana banjir.
Rumah Bapak Solihin dan istrinya roboh dan raib, hanya tersisa peralatan masak. Mereka hanya bisa membersihkan apa yang ada sambil menunggu harapan bantuan. “Bantuan beras ini sangat membantu kehidupan kami” ceritanya.
Halo!